22 September 2039
Hari ini seperti biasa aku berlatih dengan Amy, Dia sangat
lincah bahkan 10 kali latihan berturut turut ia masih terlihat segar. Sedangkan
aku sangat lelah.. ya ampun aku berasa mandi keringat karena latihan ini.
‘Amy master, apa latihan ini tidak cukup membuat ku kelelahan? Kita melakukan ini hampir 10 kali..’ Keluhku
‘Ayolah ini tidak seberapa anak muda..’ katanya
‘Ha? Belum seberapa? Astaga aku sudah sangat kelelahan..’
‘Bagaimana kau bisa kelelahan dengan latihan hanya segini? Bagaimana kalau kau menangkap penjahat yang bahkan lebih cepat dari dirimu? Kau harus bisa lebih cepat dari seekor elang?’ Gertak Amy
‘Ayolah Am, istirahat sebentar, sebentar saja, aku mohon’ kataku memelas
‘baiklah 5 menit’ kata nya tegas. Langsung saja aku berbaring di
atap di tengah dinginnya malam.. ‘Am apakah seorang assassin harus terus
memakai tudung?’ Tanya ku ‘tidak nak tidak selalu, benda itu digunakan untuk
menutupi indentitas mu, dan menunjukan kaulah assassin..’
Jelas Amy ‘Aku masih penasaran siapa kah si keeper ini?’ ‘
Maksudmu penjaga Apple?’ ‘Iyah tentu saja..’ ‘kau akan tau nanti, ayo bangun
sudah 5 menit! Setelah lari 100m lagi kita selesai..’ kata Amy ‘Baiklah..’
Setelah itu kami kembali ke basecamp, ya gudang terpencil disekitaran pembuangan sampah ini..
‘Baik lah anak-anak kini saat nya kalian mempelajari cara bertarung ala assassin’ kata Ayah
‘Hugo akan memberi tahu kalian tentang basic basic persenjataan.. silahkan Hugo..’ lalu Ayah mempersilahkan Paman Hugo untuk maju
‘Baiklah Arnold, Arlan, panggil saja aku Paman Huge, baiklah basic dari latihan ini sendiri adalah latihan pertarungan jarak dekat, kalian harus menggunakan akal, kelincahan, kesempatan, dan yang pasti kesenian..’
‘Kesenian macam apa?’ Tanya Arlan
‘Seni pedang nak, Kang, berikan aku 3 pedang’ suruh Paman Hugo
‘Ambil ini wolf’ kata Kang seraya ia memberikan 3 pedang sekaligus ke paman Hugo dan dengan sigap paman Hugo menangkapnya.
‘Wow.. sangat lincah..’ takjub ku
‘Ini adalah pedang replika, namun yang kau tau tetap saja ini berbahaya..’
‘Tunggu, kenapa kita tidak menggunakan pistol?’ Tanya Arl
‘Jika bahkan kau tak bisa mengayunkan pedang mu seperti Assassin, kau tak akan bisa mengendalikan peluru seperti Assassin.. mengerti?’ kata paman Hugo sambil tersenyum..
Lalu dimulai lah latihan kami, Latihan mengenai pedang. Paman Hugo juga menjelaskan tentang mekanisme Hidden Blade namun kami belum bisa mendapatkan itu.. Aku sangat ingin mendapatkan itu tapi aku harus belajar lebih giat lagi.
2 Bulan Kemudian
‘Baiklah aku melihat kemajuan dari kalian berdua yang sangat pesat anak anak ku, kini saat nya pembuktian bahwa pantas kah kalian mendapatkan hidden blade ini..’ kata Ayah
‘Baik Ayah, kami siap melakukannya’ Kata ku
‘Aku juga Ayah.’ Kata Arlan
‘Baiklah anak anak ku, ambil pedang kalian..’ suruh Ayah, aku dan Arlan langsung mengambil Pedang kami masing masing.
‘Sekarang bertarung!’ Kata Ayah.. Apa? Aku harus bertarung dengan Adikku?
‘Ayah kau bercanda? Aku harus melawan Arlan’ Tanya ku cemas
‘Apa kau keberatan nak?’ Tanya Ayah sambil menatapku tajam
‘Ayo kak aku akan mengalahkan mu..’ ejek Arlan
‘Tidak Ayah aku hanya takut jika Arlan akan kalah terlalu cepat..’ Kataku menghindari ejekan Arlan
‘HYAAAAAAAAAARGH!!’ Arlan dengan cepat melaju menodongkan pedang nya, dengan gesit aku mengelak, lagi dia mencoba menebaskan pedang nya kearah bahu ku, pilihan tepat.. namun aku membacanya, aku menangkis tebasan Arlan, menggunakan kaki kiri ku untuk melemaskan kaki kanan nya, dengan menendangnya.. Arlan separuh berlutut, aku menebaskan pedang ku kearahnya namun ia menangkis dan menebasnya keatas seperti memberontak.. aku tergusur agak jauh
‘Ayo adik kecil.. segitukah kemampuanmu?’ ejek ku
‘Kau akan lihat’ katanya
Lalu dengan cepat aku menebas kan pedang ku ke arahnya dengan cepat Arlan menebas juga, aku menangkis kami saling menebas dan menangkis serangan satu sama lain.. Saat aku lihat bahu Arlan sedikit lemas, kesempatan pikirku, saat Arlan menodongkan kearah ku, aku menangkis serangannya, dan berputar ke belakang punggung nya seraya menonjok bagian bahu nya yang lemah ia yang kaget lalu tergusur dan jatuh ke tanah, dengan cepat aku melangkah dan menodongkan pedang ku kea rah leher nya..
‘Pemenangnya Arnold!’ teriak paman Hugo
Kami berdua terengah engah..
‘Kau hebat adikku’ lalu aku memberikan tanganmu namun ia menampar nya, membuang tangan ku dan bangun sendiri
‘Arnold kau adalah seorang Assassin yang agak lamban, namun kau memperhatikan setiap detail, dan mencari kesempatan dan menggunakan sebaik baiknya, sebaliknya Arlan.. kau Gesit kau cepat, gerakan mu sangat prefeksionis, sayangnya kau egois anakku, kau tak memanfaatkan kesempatan, aku tak bisa mempercayakan Hidden Blade ini padamu.. Arnold ikut aku..’ Kata Ayah
‘Maafkan aku adik kecil, lain kali mungkin?’ kata ku sambil memegang bahunya, sekali lagi ia membuang nya
‘Jangan sentuh aku..’ katanya melemas..
Lalu aku mengikuti Ayah..
‘Nak kini kau adalah Assassin.. darah mu kau sendiri yang menumpahkan, darah mu sendiri yang akan kau minum dan darah mu sendiri lah kau mengambil ini, sayatkan Hidden blade ini ke jari mu, sebagai pertanda kau telah masuk ordo..’ suruh Ayah
Lalu aku menyayatkan jari ku dan meneteskan nya di Hidden Blade
‘Siete venuti e non si può andare, si sono acetate, dentro il credo Assassini Credo (Kau telah datang dan tak bisa pergi, kau telah di terima di kredo assassin), Arnold Vento kau akan berjanji setia pada Kredo Assassin, Ketika seseorang membabi buta mengikuti peraturan yang ada..’
‘Tidak ada yang benar..’
‘Dan ketika seseorang dibatasi oleh moral dan aturan..’
‘Segalanya di perbolehkan..’
‘Arnold Vento, kau adalah Assassin..’
Lalu Ayah
memberikan kepada ku Hidden Blade nya, dan sebuah jubah.. kini aku telah masuk,
dan akan kubalaskan dendam ibuku.. pada Templar..