7 Juni 2035
Nama ku, Arnold
Vento.. keturunan dari keluarga Vento yang tak tau jelas keberadaannya. Ayahku,
seorang pembuat replika pedang terkenal di kota ini. Hareld Vento. Dan Ibuku
bekerja di Bank Swasta terkenal di kota ini, Sherlyn Vento. Ya kota yang tak
begitu besar jika kau tanya aku. Boston.. ya terkenal dengan banyak sejarah
bukan.
‘Kakak! Kemarilah!
Aku menemukan sesuatu! Kemari kak! Cepat!’ Bujuk adikku Arlan yang masih
berusia 8 tahun..
‘Ya baiklah! Kakak
segera kesana!’ teriakku. Aku sangat senang entah apa yang dia temukan.. Dan
bagaimana pun ini hari ulang tahun ku yang ke 10. Ayah bilang aku adalah anak
yang paling beruntung, karena aku lahir di tanggal 7, ya angka keberuntungan.
Aku berlari
menghampiri adikku, dan aku lihat disana dia sedang berjongkok diantara semak
semak,
‘Ada apa Arl?’ Tanya
ku
‘Ssssh! Diam lihat
di jendela rumah itu!’ bisiknya. Lantas aku membungkukan badan ku dan aku
melihat, seorang perwira, seperti polisi aku kira.. membawa shotgun yang sudah
masuk ke pekarangan rumah.
‘Kakak! Kakak lihat
di jendela itu..’
Lantas tanpa kata
kata aku langsung saja melihat kea rah jendela, sesaat ada kilatan cahaya dan
bunyi
BLAAR!
Langsung saja
adikku membekap di dalam jaket hangat ku, karena diluar sedang bersalju.
‘Arlan cepat ikut
aku! Cepat! Berdiri Arlan!’ suruh ku sambil menarik narik baju nya
‘Ba-ba-baik..’
kata nya sambil berlinang air mata.
Aku berlari
menuju rumah, ketika Ayah dan Ibuku yang sedang menyiapkan pesta ulang tahunku.
‘A-Ayah! Ayah
tidak akan percaya apa yang terjadi!’ kata ku sampai sesegukan karena menangis,
sedangkan adikku masih merengek..
‘Ada apa nak! Mengapa
kau menangis?’ Tanya Ayah
‘Sayang sudah
sudah tenangkan dirimu..’ kata ibuku sambil memeluk adikku.
‘Ada pembunuhan Ayah!’
kataku terus terang. ‘Apa maksudmu!?’ bentak Ayah.
‘BUKA PINTUNYA!’
kata seseorang diluar sambil menggedor gedor pintu kami. Aku langsung
berlindung di balik Ayah.
‘BUKA PINTUNYA!
KAMI MENCARI PARA PEMBUNUH DISEKITAR SINI!’ kata orang dibalik pintu itu lagi.
‘Arnold dengarkan
Ayah..Ayah telah melatihmu dan itu belum cukup, namun saat ini lah kau harus
jadi laki laki sejati, ok? Dengarkan baik baik..’
‘BUKA PINTUNYA!!
ATAU KAMI DOBRAK!’
‘Arnold, kau
ingat kata kata Ayah? Ketika seseorang membabi buta mengikuti peraturan yang
ada..’
‘Tidak ada yang
benar..’
‘Benar.. Dan ingat
ketika seseorang dibatasi oleh moral dan aturan..’
‘Segalanya di
perbolehkan..’
‘Va Bene Arnold,
pergilah, dan bawa Adikmu..’
‘Tapi Ayah!?’
rengekku
‘Pergi Arnold!
PERGI! DAN JANGAN MELIHAT KEBELAKANG!’ teriak Ayah
Aku segera pergi
membawa adikku dengan luka yang sangat mendalam. Apa
Ayah ku akan terbunuh sama
seperti orang tadi?
BLAAR
Hati ku hancur
ketika mendengar suara tembakan itu, dan tanpa sadar.. aku melihat kebelakang,
pemandangan yang sangat mengerikan, Ibu ku ditembaki dan Ayah ku terdiam
seperti ingin menangis, lalu ia marah, dan seperti akan membantai semua
komplotan itu, saat Ayah hendak menghunuskan Pedang nya, seseorang dengan Jubah
dan Topi nya menghalangi ku..
‘Kesini nak
pemandangan ini tak baik untuk mu..’ kata orang itu sambil membawa ku dan
Adikku keluar dari perumahan ini..
Ya Tuhan apa yang
akan terjadi, pada orang tua ku, pada kami.. Aku akan mencari orang orang itu..
Ya, aku ingat, ada Salib sejajar berwarna merah di seragam mereka. Aku tak tahu
mereka siapa. Namun akan kupastikan! Mereka akan punah!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar